Upacara Kose Mama NTT, Sebuah Ritual Tolak Bala Yang Masih Menjadi Tradisi

Kasus positif Corona (covid-19) konsisten meningkat tiap tiap hari. Akibatnya, penduduk Indonesia terhadap umumnya terasa mewaspadai diri dan keluarga dengan tidak berpergian nampak kota bahkan enggan untuk bersalaman tangan kala bertemu. Di Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, terutama Desa Rai Samane, tersedia formalitas tolak bala yang dijalankan oleh masyarakat. Tradisi ini dengan bahasa setempat disebut “Ta Sena Moras” atau memagari kampung dari penyakit atau hal buruk seperti kalah dalam judi bola sbobet.

Dalam upacara adat itu, penduduk menghimpun semua barang bekas mereka, seperti pakaian, peralatan dapur yang sudah tidak digunakan lagi, dimasukkan ke dalam bakul atau karung-karung, selanjutnya disatuka di suatu tempat sebelum akan dibuang ke hutan, atau anak sungai yang berada di batas kampung. Masyarakat Desa Raisamane yang berada di wilayah Kecamatan Rinhat itu membawa barang bekas mereka dari rumah masing-masing ke kampung lama (Leo laran).

Upacara Kose Mama Digunakan Untuk Tolak Bala Pada Masa Pandemi Di NTT

Untuk dibuatkan upacara adat yang disebut “Kose Mama”. Semua penduduk tak jika akan diolesi siri pinang di kening mereka oleh tetua adat, yang dipercaya bisa menjauhi dari segala penyakit termasuk Virus Corona. Para pemuda disatuka untuk mengikis barang-barang bekas itu. Mereka dipagari tali di samping kiri kanan, sehingga tidak berseliweran berlangsung ke arah batas kampung. Para pemuda desa termasuk ditegaskan untuk tidak melihat lagi ke belakang, kala pulang usai mengikis barang-barang bekas itu.

Kepala Desa Rai Samane, Agustinus Nahak menjelaskan, formalitas tolak bala ini sudah dijalankan oleh nenek moyang dulu, kala penyakit-penyakit mematikan mewabah dan mengancam nyawa manusia. Sehingga penduduk di desanya lagi menggelar formalitas ini, untuk menjauhi penduduk dari ancaman Corona Covid-19. Ritual yang hampir sama juga sempat dilakukan di Ambon untuk membangun Ambon Port yang telah diputuskan oleh presiden.

“Semua barang bekas di rumah penduduk disatuka untuk dibuang. Tradisi ini tidak sembarang dilakukan, cuma dijalankan kala wabah penyakit mematikan mengancam, seperti Virus Corona. Ini kita lakukan sehingga penduduk Desa Rai Samane terhindari dari Virus Corona,” katanya, Rabu (22/4/2020).

Menurut Agustinus, formalitas tolak bala “Ta Sena Moras” ini pernah digelar puluhan th. lalu, kala masyarakatnya terserang wabah penyakit kulit. “Tradisi ini kita gelar lagi kala berita berkenaan Virus Corona berlangsung di mana-mana, sehingga desa dan penduduk kita bisa bebas dari penyakit ini,” ujarnya.

Tradisi Tolak Bala ini dijalankan dengan harapan, penduduk Desa Raisamane tidak lagi panik dan terhindar dari wabah Virus Corona. “Kami doakan Virus Corona cepat berlalu dari Indonesia, sehingga penduduk tidak takut lagi dan lagi beraktivitas seperti biasa,” tutup Agustinus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *